Kamis, 23 Agustus 2012

peranan zat besi pada kehamilan


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Lebih dari separuh (104,6 juta orang) dari total penduduk Indonesia (208,2 juta orang) adalah perempuan. Namun, kualitas hidup perempuan jauh tertinggal dibandingkan laki-laki. Masih sedikit sekali perempuan yang mendapat akses dan peluang untuk berpartisipasi optimal dalam proses pembangunan. Tidak heran bila jumlah perempuan yang menikmati hasil pembangunan lebih terbatas dibandingkan laki-laki.
Setiap orang untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup memerlukan lima kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral) dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan kekurangan. Di samping itu manusia memerlukan air dan serat untuk memperlancar berbagai proses reproduksi dalam tubuh. Pemberian gizi yang sebaik baiknya harus memperhatikan kemampuan tubuh seseorang untuk mencerna makanan.
Secara alami komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu. Umur, jenis kelamin, jenis aktivitas, dan kondisi tertentu seperti sakit, hamil dan menyusui. Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhanb zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif.
Jadi untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan. Selain itu, apabila makanan cadangan mangan (Mn) di dalam tubuh kurang maka vitamin A tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal. Contoh lain di perlukan vitamin C yang cukup dalam makanan untuk meningkatkan metabolisme zat besi(Fe).





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Kesehatan Reproduksi
Pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Pengertian kesehatan reproduksi ini mencakup tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Hak seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk bereproduksi; 2) Kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak melakukannya; 3) Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi serta memperoleh aksebilitas yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural; 4) Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman.

1.      Kesehatan reproduksi remaja dan faktor yang mempengaruhinya

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi yaitu :
a.       Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
b.      Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dan sebagainya).
c.       Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara materi, dan sebagainya).
d.      Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dan sebagainya).
B.     Zat Besi
1.      Defenisi
Zat besi adalah salah satu mineral penting yang diperlukan selama kehamilan, bukan hanya untuk bayi tapi juga untuk ibu hamil. Bayi akan menyerap dan mengunakan zat besi dengan cepat, sehingga jika ibu kekurangan masukan zat besi selama hamil, bayi akan mengambil kebutuhanya dari tubuh ibu sehingga menyebabkan ibu mengalami anemia dan merasa lelah (Sunririnah 2008).
Sumber Zat besi adalah Daging, sayuran hijau, dan biji-bijian
Fungsi Zat besi adalah pembentukan hemoglobin, komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi). Akibat Kekurangan Zat besi yaitu  anemia. Tambahan Mengenai Zat besi
yaitu ditranspor sebagai transferin dan disimpan sebagai feritin.
C.     Peranan Zat Besi (Fe) dalam Kesehatan Reproduksi
Biasanya tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama untuk zat besi dalam tubuh, ada perbedaan ditandai sesuai dengan usia dan tahap kehidupan yang kita berjalan.
Orang dewasa membutuhkan 10 hingga 15 miligram zat besi setiap hari, karena tubuh kita tidak dapat mensintesis, kami harus mendapatkannya dari makanan yang kita makan.
Sebagai wanita usia subur biasanya lebih rentan untuk menderita anemia, karena mereka telah kehilangan darah rutin bulanan (menstruasi), dan sering besi berlimpah memerlukan dua kali lebih banyak dalam kasus ini membutuhkan waktu sekitar 30 miligram, serta selama kehamilan, bayi mengambil hampir sebagian besar besi ibu dikonsumsi dalam makanan.
Di antara gejala yang paling umum dari kekurangan mineral ini, menemukan kelelahan, kulit pucat, kuning atau selaput lendir putih, depresi, kuku dan rambut dan sangat lemah dalam semua kasus itu selalu perlu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Pokoknya kita meninggalkan sumber terbaik di mana Anda dapat menemukan besi yang diperlukan untuk tubuh melalui makanan.
Memiliki 60 miligram biji labu besi 11,2 mg, ragi bir 17,3 mg. kedelai sebagai peterseli mengandung 8,5 mg besi, 8 mg hati sapi, dan sorot bibit gandum, almond, hazelnut, kacang, buncis, bayam, telur, ubi jalar, kenari dan chard sebagai sumber mineral ini benar.
  1. Mengapa wanita memerlukan zat besi?
Zat besi memainkan peran yang penting untuk nutrisi setiap orang. Jika remaja mengonsumsi zat besi dengan baik maka hal ini akan berdampak positif untuk kesehatan otaknya kelak.
Sumber makanan yang mengandung zat besi adalah daging merah, sereal, buah kering, roti dan sayuran berdaun hijau. Sementara yang non-daging membutuhkan asupan nutrisi lain untuk meningkatkan penyerapannya seperti makanan kaya vitamin C (jeruk, blackcurrant dan sayuran berdaun hijau), sedangkan zat tanin dalam teh bisa mengurangi penyerapan zat besi.
Banyak mitos yang berkembang di masyarakat bahwa vitamin tertentu dapat menambah kesuburan. Misalnya, pasangan suami-istri dianjurkan banyak makan kecambah karena mengandung vitamin E yang baik untuk kesuburan.
Pendapat itu hanya separuh benar. Meskipun vitamin E diperlukan untuk kesuburan, vitamin tersebut bukanlah satu-satunya yang Anda butuhkan. Anda memerlukan kombinasi sejumlah vitamin lain dan mineral untuk menjaga fertilitas. Mengkonsumsi berlebihan unsur gizi tertentu tapi kurang mengkonsumsi unsur lainnya justru merugikan fertilitas (dan kesehatan) Anda. Dalam kondisi apa pun, pola makan dengan gizi seimbang harus tetap dipertahankan. Fe adalah nutrisi yang bila dikonsumsi secara seimbang akan menambah kesuburan Anda.
Zat besi memiliki peranan yang penting dalam produksi hemoglobin. Wanita memerlukan banyak zat besi yang hilang selam terjadinya menstruasi (haid), selama kehamilan, dan menyusui. Tubuh membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, zat yang ada dalam sel darah merah yang berperan membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, termasuk ke otak. Zat besi juga penting dan berperang dalam system imun dan metabolisme vitamin B. Aktivitas otak, bernafas, dan respirasi sel dan setiap proses dalam tubuh kita amat bergantung pada keberadaan zat besi dalam darah.
Faktanya, sekitar 12% wanita usia 12-49 tahun mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi. Dan sekitar 50% wanita hamil ternyata mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi, yang bisa berdampak cukup fatal bagi kehamilannya. Defisiensi (kekurangan) zat besi dapat mengakibatkan timbulnya kelelahan, masalah konsentrasi, hilangnya memori, kuku mudah retak. Apakah hanya itu pentingnya zat besi bagi wanita? Ternyata tak hanya itu, masalah kerontokan rambut rupanya tekait erat dengan masalah kekurangan zat besi. Melihat fakta ini, tentunya sangat penting bagi wanita untuk memerhatikan kecukupan nutrisi penting ini bagi tubuhnya.
Untuk wanita usia 50 tahun ke bawah direkomendasikan untuk mengkonsumsi zat besi sebanyak 18 mg per hari. Sementara untuk wanita yang telah menopause hanya butuh sekitar 8 mg per hari. Beberapa sumber makanan yang kaya akan zat besi misalnya, daging, salmon, sayuran hijau seperti brokoli, bayam, dan lain-lain.
Lalu, bila zat besi diperlukan tubuh, perlukan saya mengkonsumsi suplemen zat besi? Sebaiknya anda perlu berhati-hati sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi. Karena terlalu banyak zat besi pun bisa berdampak tidak baik bagi tubuh. Untuk itu, sebaiknya anda perlu berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi.
Untuk memaksimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh, sebaiknya disertai dengan konsumsi makanan yang mengandung vitamin C, misalnya jeruk. Hindari minum the (kurang lebih 1 jam setelah mengkonsumsi zat besi) karena di dalam the terkandung tannin yang bisa mempengaruhi penyerapan zat besi oleh tubuh. The bisa mengurangi penyerapan zat besi ke dalam tubuh sebesar 60%. Hindari pula kopi karena juga dapat mengganggu penyerapan zat besi ke dalam tubuh (kopi mengurangi sekitar 35% penyerapan zat besi).
2.      Fungsi zat besi bagi reproduksi
Zat besi berfungsi untuk membentuk sel darah merah, sementara sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dan zat-zat makanan keseluruh tubuh serta membantu proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi, jika asupan zat besi kedalam tubuh berkurang dengan sendirinya sel darah merah juga akan berkurang, tubuh pun akan kekurangan oksigen akibatnya timbullah gejala-gejala anemia. ( Samuel 2006 )
3.      Akibat kekurangan zat besi pada sistem reproduksi
Zat besi bagi ibu hamil penting untuk pembentukan dan mempertahankan sel darah merah. Kecukupan sel darah merah akan menjamin sirkulasi oksigen dan metabolisme zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh alat reproduksi. Selain itu asupun zat besi sejak awal terjadinya proses reproduksi cukup baik, maka sistem reproduksi akan menggunakannya untuk kebutuhan tumbuh kembangnya alat reproduksi. Sehingga kekurangan zat besi sejak sebelum terjadinya proses reproduksi bila tidak diatasi dapat mengakibatkan kita menderita anemia dan kanker servik.


4.      Gejala kekurangan zat besi
·        Lemah, lesu, tidak bergairah
·        Mudah pusing dan mata berkunang – kunang
·        Gelisah dan mudah pingsan
·        Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
·        Nafsu makan menurun
·        Badan tidak bugar dan mudah lemah (Ridwamiruddin 2007)

 
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Kebutuhan energi dan nutrisi pada remaja dipengarhi oleh usia reproduksi, tingkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan sedikit lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan remaja tersebut. Remajayang berasal dari sosial ekonomi rendah sumber makanaan adekuat tidak terpenuhi, dan mempunyai resiko defisisensi zat besi sebelum hamil. Pemberian tambahan energi diberikan kepada remaja dengan berat badan rendah. Penembahan energi didapatkan dengan meningkatkan nafsu makan, akan tetapi seorang remaja sering terlalu memperhatikan penambahan berat badannya. Seorang remaja dapat mengalami peningkatan resiko defisisensi zat besi, karena kebutuhan yang meningkat sehubungan dengan pertumbuhan.
Remaja yang anemia dan kurang berat badan lebih banyak melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan wanita yang usia reproduksinya aman untuk hamil. Penambahan berat badan yang adekuat lebih sering terjadi pada orang yang ingin kurus, ingin menyembunyikan kehamilannya, tidak mencukupi sumber makanannya, dan menggunakan obat-obat terlarang.
Zat besi punya peran vital bagi tubuh kita. Salah satu fungsi utamanya adalah transportasi utama dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Jadi fungsinya betul betul sangat penting. Selain itu zat besi berperan dalam produksi hemoglobin dan menyokong sistem kekebalan tubuh. Jadi jika kekurangan zat besi, resiko terserang penyakit jadi besar. Kebutuhan zat besi pada pria dewasa antara 40 – 50 miligram per kilogram berat badan. Sementara bagi perempuan antara 35 – 50 miligram per kilogram berat badan.
Jika kekurangan zat besi, gejala yang timbul diantaranya rasa lelah yang cepat terasa. Biasanya dibarengi dengan rasa ngilu, pusing kepala, mual, berkurangnya nafsu makan, hingga berujung pada anemia. Pada wanita hamil, kasus ini harus dihindari agar tak mengganggu kesehatan janin dan ibu yang mangandung. Agar terhindar dari situasi kekurangan zat besi, perbanyaklah konsumsi makanan yang kaya kandungan besi, seperti daging tanpa lemak, kerang, hati, telur, tiram, unggas dan ikan ikanan. Sementara sumber nabati bisa diperoleh dari kacang kacangan, kentang, nasi, gandum, dan sayur sayuran, khususnya bayam. Selain kaya zat besi, bayam ternyata mengandung vitamin C, E dan memiliki kadar antioksidan tinggi. jadi selain bagus untuk memenuhi kebutuhan zat besi bagi tubuh, bayam pun berkasiat memelihara jantung, menghindari stroke, dan kanker. Untuk mempermudah penyerapan zat besi dalam tubuh, konsumsilah protein hewani dengan makanan yang mengandung vitamin C dalam satu hidangan. jadi kombinasi daging tanpa lemak dan bayam merupakan salah satu resep yang cocok untuk memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuh.
Fe terdapat dalam bahan makanan hewani, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau tua. Pemenuhan Fe oleh tubuh memang sering dialami sebab rendahnya tingkat penyerapan Fe di dalam tubuh, terutama dari sumber Fe nabati yang hanya diserap 1-2%. Penyerapan Fe asal bahan makanan hewani dapat mencapai 10-20%. Fe bahan makanan hewani (heme) lebih mudah diserap daripada Fe nabati (non heme).
Zat besi penting untuk transportasi darah dan oksigen di dalam tubuh. Kaum wanita memerlukannya untuk menjaga keseimbangan proses ovulasi. Sebuah studi menunjukkan bahwa 40% anggota kelompok wanita yang mengalami masalah ovulasi menjadi subur setelah menambah konsumsi zat besi.
Asupan zat besi yang disarankan bagi pria dan wanita dewasa masing-masing adalah 8 mg dan 18 mg per hari.  Zat besi paling baik diperoleh dari sumber alami seperti kangkung, bayam, hati dan daging.


DAFTAR PUSTAKA

GOI & UNICEF. Laporan Nasional Tindak Lanjut Konferensi Tingkat Tinggi Anak (Draft). Desember 2000.
Mochtar, Rustam, 1987, Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Valentino Group, Medan
WHO-SEARO. Regional Health Report 1998: Focus on Women. New Delhi: WHO-SEARO, 1998
WHO. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for Health System. A Draft 4 September 2002.
Zumrotin K. Susilo and Herna Lestari. Disampaikan pada acara Temu Ilmiah Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Hotel Savoy Homann Bidakara Bandung, 6 Oktober 2002. Artikel.
Syafruddin. Abortus Provocatus dan Hukum. USU-Library. 2003.
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi 2. Hal 386-397. Jakarta : YBPSP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar