BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Lebih dari separuh (104,6 juta orang) dari total penduduk
Indonesia (208,2 juta orang) adalah perempuan. Namun, kualitas hidup perempuan
jauh tertinggal dibandingkan laki-laki. Masih sedikit sekali perempuan yang
mendapat akses dan peluang untuk berpartisipasi optimal dalam proses
pembangunan. Tidak heran bila jumlah perempuan yang menikmati hasil pembangunan
lebih terbatas dibandingkan laki-laki.
Setiap orang untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup
memerlukan lima kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan
mineral) dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan kekurangan. Di samping
itu manusia memerlukan air dan serat untuk memperlancar berbagai proses
reproduksi dalam tubuh. Pemberian gizi yang sebaik baiknya harus memperhatikan
kemampuan tubuh seseorang untuk mencerna makanan.
Secara alami komposisi zat gizi setiap
jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu. Umur, jenis kelamin,
jenis aktivitas, dan kondisi tertentu seperti sakit, hamil dan menyusui.
Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam maka akan timbul
ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhanb zat gizi yang diperlukan untuk
hidup sehat dan produktif.
Jadi
untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya
oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan
makanan. Selain itu, apabila makanan cadangan mangan (Mn) di dalam tubuh kurang
maka vitamin A tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal. Contoh lain di perlukan vitamin C yang cukup dalam
makanan untuk meningkatkan metabolisme zat besi(Fe).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kesehatan Reproduksi
Pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu
keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik,
mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan
dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Pengertian kesehatan reproduksi ini mencakup
tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Hak seseorang untuk dapat memperoleh
kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk
bereproduksi; 2) Kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak
melakukannya; 3) Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi
serta memperoleh aksebilitas yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi
maupun kultural; 4) Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan
yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses
kehamilan secara aman.
1. Kesehatan reproduksi remaja dan faktor yang mempengaruhinya
Secara garis
besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi
kesehatan reproduksi
yaitu :
a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat
pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan
proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang
berdampak buruk pada kesehatan reproduksi,
kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi
tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang
lain, dan sebagainya).
c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan
hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara
materi, dan sebagainya).
d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi
pasca penyakit
menular seksual, dan sebagainya).
B. Zat Besi
1.
Defenisi
Zat besi adalah salah satu mineral penting yang diperlukan
selama kehamilan, bukan hanya untuk bayi tapi juga untuk ibu hamil. Bayi akan
menyerap dan mengunakan zat besi dengan cepat, sehingga jika ibu kekurangan
masukan zat besi selama hamil, bayi akan mengambil kebutuhanya dari tubuh ibu
sehingga menyebabkan ibu mengalami anemia dan merasa lelah (Sunririnah 2008).
Sumber Zat besi adalah
Daging, sayuran hijau, dan biji-bijian
Fungsi Zat besi adalah pembentukan hemoglobin, komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi). Akibat Kekurangan Zat besi yaitu anemia. Tambahan Mengenai Zat besi yaitu ditranspor sebagai transferin dan disimpan sebagai feritin.
Fungsi Zat besi adalah pembentukan hemoglobin, komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi). Akibat Kekurangan Zat besi yaitu anemia. Tambahan Mengenai Zat besi yaitu ditranspor sebagai transferin dan disimpan sebagai feritin.
C.
Peranan Zat Besi (Fe)
dalam Kesehatan Reproduksi
Biasanya tidak semua
orang memiliki kebutuhan yang sama untuk
zat besi dalam tubuh, ada perbedaan ditandai sesuai dengan usia dan tahap
kehidupan yang kita berjalan.
Orang dewasa membutuhkan
10 hingga 15 miligram zat besi setiap hari, karena tubuh kita tidak dapat
mensintesis, kami harus mendapatkannya dari makanan yang kita makan.
Sebagai wanita usia subur
biasanya lebih rentan untuk menderita anemia, karena mereka telah kehilangan
darah rutin bulanan (menstruasi), dan sering besi berlimpah memerlukan dua kali
lebih banyak dalam kasus ini membutuhkan waktu sekitar 30 miligram, serta
selama kehamilan, bayi mengambil hampir sebagian besar besi ibu dikonsumsi
dalam makanan.
Di antara gejala yang
paling umum dari kekurangan mineral ini, menemukan kelelahan, kulit pucat,
kuning atau selaput lendir putih, depresi, kuku dan rambut dan sangat lemah
dalam semua kasus itu selalu perlu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Pokoknya kita
meninggalkan sumber terbaik di mana Anda dapat menemukan besi yang diperlukan
untuk tubuh melalui makanan.
Memiliki 60 miligram biji
labu besi 11,2 mg, ragi bir 17,3 mg. kedelai sebagai peterseli mengandung 8,5
mg besi, 8 mg hati sapi, dan sorot bibit gandum, almond, hazelnut, kacang,
buncis, bayam, telur, ubi jalar, kenari dan chard sebagai sumber mineral ini
benar.
- Mengapa wanita memerlukan zat besi?
Zat
besi memainkan peran yang penting untuk nutrisi setiap orang. Jika remaja
mengonsumsi zat besi dengan baik maka hal ini akan berdampak positif untuk
kesehatan otaknya kelak.
Sumber
makanan yang mengandung zat besi adalah daging merah, sereal, buah kering, roti
dan sayuran berdaun hijau. Sementara yang non-daging membutuhkan asupan nutrisi
lain untuk meningkatkan penyerapannya seperti makanan kaya vitamin C (jeruk,
blackcurrant dan sayuran berdaun hijau), sedangkan zat tanin dalam teh bisa
mengurangi penyerapan zat besi.
Banyak
mitos yang berkembang di masyarakat bahwa vitamin tertentu dapat menambah
kesuburan. Misalnya, pasangan suami-istri dianjurkan banyak makan kecambah
karena mengandung vitamin E yang baik untuk kesuburan.
Pendapat
itu hanya separuh benar. Meskipun vitamin E diperlukan untuk
kesuburan, vitamin tersebut bukanlah satu-satunya yang Anda butuhkan. Anda
memerlukan kombinasi sejumlah vitamin lain dan mineral untuk menjaga
fertilitas. Mengkonsumsi berlebihan unsur gizi tertentu tapi kurang
mengkonsumsi unsur lainnya justru merugikan
fertilitas (dan kesehatan) Anda. Dalam kondisi apa pun, pola makan
dengan gizi seimbang harus tetap dipertahankan. Fe adalah nutrisi
yang bila dikonsumsi secara seimbang akan menambah kesuburan Anda.
Zat besi memiliki peranan
yang penting dalam produksi hemoglobin. Wanita memerlukan banyak zat besi yang
hilang selam terjadinya menstruasi (haid), selama kehamilan, dan menyusui.
Tubuh membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, zat yang ada dalam sel
darah merah yang berperan membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh,
termasuk ke otak. Zat besi juga penting dan berperang dalam system imun dan
metabolisme vitamin B. Aktivitas otak, bernafas, dan respirasi sel dan setiap
proses dalam tubuh kita amat bergantung pada keberadaan zat besi dalam darah.
Faktanya, sekitar 12% wanita
usia 12-49 tahun mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi. Dan sekitar 50%
wanita hamil ternyata mengalami defisiensi (kekurangan) zat besi, yang bisa
berdampak cukup fatal bagi kehamilannya. Defisiensi (kekurangan) zat besi dapat
mengakibatkan timbulnya kelelahan, masalah konsentrasi, hilangnya memori, kuku
mudah retak. Apakah hanya itu pentingnya zat besi bagi wanita? Ternyata tak
hanya itu, masalah kerontokan rambut rupanya tekait erat dengan masalah
kekurangan zat besi. Melihat fakta ini, tentunya sangat penting bagi wanita
untuk memerhatikan kecukupan nutrisi penting ini bagi tubuhnya.
Untuk wanita usia 50 tahun
ke bawah direkomendasikan untuk mengkonsumsi zat besi sebanyak 18 mg per hari. Sementara untuk wanita yang telah menopause hanya
butuh sekitar 8 mg per hari. Beberapa sumber makanan yang kaya akan zat besi
misalnya, daging, salmon, sayuran hijau seperti brokoli, bayam, dan lain-lain.
Lalu, bila zat besi diperlukan tubuh, perlukan saya
mengkonsumsi suplemen zat besi? Sebaiknya anda perlu berhati-hati sebelum
memutuskan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi. Karena terlalu banyak zat besi
pun bisa berdampak tidak baik bagi tubuh. Untuk itu, sebaiknya anda perlu
berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi
suplemen zat besi.
Untuk memaksimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh, sebaiknya disertai dengan
konsumsi makanan yang mengandung vitamin C, misalnya jeruk. Hindari minum the
(kurang lebih 1 jam setelah mengkonsumsi zat besi) karena di dalam the
terkandung tannin yang bisa mempengaruhi penyerapan zat besi oleh tubuh. The
bisa mengurangi penyerapan zat besi ke dalam tubuh sebesar 60%. Hindari pula
kopi karena juga dapat mengganggu penyerapan zat besi ke dalam tubuh (kopi
mengurangi sekitar 35% penyerapan zat besi).
2.
Fungsi zat besi bagi reproduksi
Zat besi berfungsi untuk
membentuk sel darah merah, sementara sel darah merah bertugas mengangkut
oksigen dan zat-zat makanan keseluruh tubuh serta membantu proses metabolisme
tubuh untuk menghasilkan energi, jika asupan zat besi kedalam tubuh berkurang
dengan sendirinya sel darah merah juga akan berkurang, tubuh pun akan
kekurangan oksigen akibatnya timbullah gejala-gejala anemia. ( Samuel 2006 )
3.
Akibat kekurangan zat
besi pada sistem reproduksi
Zat besi bagi ibu hamil
penting untuk pembentukan dan mempertahankan sel darah merah. Kecukupan sel
darah merah akan menjamin sirkulasi oksigen dan metabolisme zat-zat gizi yang
dibutuhkan oleh alat reproduksi. Selain itu asupun zat besi sejak awal terjadinya
proses reproduksi cukup baik, maka sistem reproduksi akan menggunakannya untuk
kebutuhan tumbuh kembangnya alat reproduksi. Sehingga kekurangan zat besi sejak
sebelum terjadinya proses reproduksi bila tidak diatasi dapat mengakibatkan kita
menderita anemia dan kanker servik.
4.
Gejala kekurangan zat
besi
·
Lemah, lesu, tidak bergairah
·
Mudah pusing dan mata berkunang – kunang
·
Gelisah dan mudah pingsan
·
Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
·
Nafsu makan menurun
·
Badan tidak bugar dan mudah lemah (Ridwamiruddin 2007)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan Reproduksi adalah
suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik,
mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan
dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Kebutuhan
energi dan nutrisi pada remaja dipengarhi oleh usia reproduksi, tingkat
aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan sedikit lebih tinggi
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan remaja tersebut. Remajayang berasal dari
sosial ekonomi rendah sumber makanaan adekuat tidak terpenuhi, dan mempunyai
resiko defisisensi zat besi sebelum hamil. Pemberian tambahan energi diberikan
kepada remaja dengan berat badan rendah. Penembahan energi didapatkan dengan
meningkatkan nafsu makan, akan tetapi seorang remaja sering terlalu
memperhatikan penambahan berat badannya. Seorang remaja dapat mengalami
peningkatan resiko defisisensi zat besi, karena kebutuhan yang meningkat
sehubungan dengan pertumbuhan.
Remaja
yang anemia dan kurang berat badan lebih banyak melahirkan bayi BBLR
dibandingkan dengan wanita yang usia reproduksinya aman untuk hamil. Penambahan
berat badan yang adekuat lebih sering terjadi pada orang yang ingin kurus,
ingin menyembunyikan kehamilannya, tidak mencukupi sumber makanannya, dan
menggunakan obat-obat terlarang.
Zat besi punya peran vital bagi
tubuh kita. Salah satu fungsi utamanya adalah transportasi utama dalam
mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Jadi fungsinya betul betul sangat
penting. Selain itu zat besi berperan dalam produksi hemoglobin dan menyokong
sistem kekebalan tubuh. Jadi jika kekurangan zat besi, resiko terserang
penyakit jadi besar. Kebutuhan zat besi pada pria dewasa antara 40 – 50
miligram per kilogram berat badan. Sementara bagi perempuan antara 35 – 50 miligram
per kilogram berat badan.
Jika kekurangan zat besi, gejala
yang timbul diantaranya rasa lelah yang cepat terasa. Biasanya dibarengi dengan
rasa ngilu, pusing kepala, mual, berkurangnya nafsu makan, hingga berujung pada
anemia. Pada wanita hamil, kasus ini harus dihindari agar tak mengganggu
kesehatan janin dan ibu yang mangandung. Agar terhindar dari situasi kekurangan
zat besi, perbanyaklah konsumsi makanan yang kaya kandungan besi, seperti
daging tanpa lemak, kerang, hati, telur, tiram, unggas dan ikan ikanan.
Sementara sumber nabati bisa diperoleh dari kacang kacangan, kentang, nasi,
gandum, dan sayur sayuran, khususnya bayam. Selain kaya zat besi, bayam
ternyata mengandung vitamin C, E dan memiliki kadar antioksidan tinggi. jadi
selain bagus untuk memenuhi kebutuhan zat besi bagi tubuh, bayam pun berkasiat
memelihara jantung, menghindari stroke, dan kanker. Untuk mempermudah
penyerapan zat besi dalam tubuh, konsumsilah protein hewani dengan makanan yang
mengandung vitamin C dalam satu hidangan. jadi kombinasi daging tanpa lemak dan
bayam merupakan salah satu resep yang cocok untuk memenuhi kebutuhan zat besi
dalam tubuh.
Fe
terdapat dalam bahan makanan hewani, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna
hijau tua. Pemenuhan Fe oleh tubuh memang sering dialami sebab rendahnya
tingkat penyerapan Fe di dalam tubuh, terutama dari sumber Fe nabati yang hanya
diserap 1-2%. Penyerapan Fe asal bahan makanan hewani dapat mencapai 10-20%. Fe
bahan makanan hewani (heme) lebih mudah diserap daripada Fe nabati (non heme).
Zat
besi penting untuk transportasi darah dan oksigen di dalam tubuh.
Kaum wanita memerlukannya untuk menjaga keseimbangan proses ovulasi. Sebuah
studi menunjukkan bahwa 40% anggota kelompok wanita yang mengalami
masalah ovulasi menjadi subur setelah menambah konsumsi zat besi.
Asupan
zat besi yang disarankan bagi pria dan wanita dewasa masing-masing adalah
8 mg dan 18 mg per hari. Zat besi paling baik diperoleh dari sumber alami
seperti kangkung, bayam, hati dan daging.
DAFTAR PUSTAKA
GOI & UNICEF. Laporan Nasional
Tindak Lanjut Konferensi Tingkat Tinggi Anak (Draft). Desember 2000.
Mochtar, Rustam, 1987, Sinopsis
Obstetri, Edisi 2, Valentino Group, Medan
WHO-SEARO. Regional Health Report
1998: Focus on Women. New Delhi: WHO-SEARO, 1998
WHO. Safe Abortion: Technical and
Policy Guidance for Health System. A Draft 4 September 2002.
Zumrotin K. Susilo and Herna
Lestari. Disampaikan pada acara Temu Ilmiah Fertilitas Endokrinologi
Reproduksi, Hotel Savoy Homann Bidakara Bandung, 6 Oktober 2002. Artikel.
Syafruddin. Abortus Provocatus dan
Hukum. USU-Library. 2003.
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu
Kebidanan. Edisi 2. Hal 386-397. Jakarta : YBPSP